Tiga Golongan Manusia Pada Hari Kiamat 1.Golongan Orang yang Beriman Paling dahulu adalah orang-orang yang didekatkan dengan Allah 2.Golongan Kanan alangkah mulianya golongan ini 3.Golongan Kiri alangkah sengsaranya golongan ini! QS:Al-Waqi'ah
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri 10-syarat. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri 10-syarat. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Maret 2013

10-SYArat Masuk Surga

SARAT MASUK  SURGA : Al-A hzab 33/35  junto:
Sungguh orang yang:
2.Mukmin,  4/124; 8/2,3,4 ; 40/40; 
3.Konitin (orang yang tekun): 16/120; 3/43; 2/238 
4.Shodiqin (orang yang benar): 2/177;  103/3; 
5.Soobirin(orang yang sabar/tabah) :  2/153; 13/22, 8/65,
6.Khoosi’in (orang khusu’) : 3/199;  57/16;  21/90;  41/39;  2/45 
7.Mutashodiqin  (orang bersedekah) :  9/60; 
8.Shoo’imin  (orang berpuasa) : 2/183, 184, 185; 
9.Hafidhinafurujahum (orang yang menjaga kehormatannya) : 66/12;  24/30; 24/31; 
10.Orang-orang dzikir pada Allah yang banyak (laki-laki dan perempuan): 33/41;  33/21;
Allah menyediakan ampunan dan balasan yang besar (Surga) kepada mereka…….!!
Pertanyaan:  Ibadah haji, tidak termasuk  syarat-2 masuk surga … kenapa….?? 
Rukun Islam :  Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat, Haji 
Rukun Iman : Iman kepada : Allah,  Malaikat, Nabi/Rasul, Kitab-2,  Hari Kiamat dan  Qodho/Qodar

Setiap orang mengharapakan masuk surga, dan bercita-cita meraihnya..!
Namun ada orang yang sama sekali tidak merindukan surga...!!?

Quran

Selasa, 16 April 2013

Pahala = Balasan

Allah menyediakan ampunan dan pahala besar
QS An-Nisaa' 4/40
Sesungguhnya Allah tidak menzalimi seberat zarrah (atom). Jika ada kebaikan, DIA akan melipat gandakannya dan mendatangkan daripada-NYA upah yang besar. link:2/267, 23/62, 43/32.

QS Al-An'am 6/120 > pahala sebanding
Tinggalkanlah dosa yang dzahir dan bathin, bahwa orang-orang yang melakukan dosa (baik dzahir maupun bathin) akan dibalas dengan apa yang telah mereka usahakan. link:2/206, 49/11, 12.

QS Al-An'am 6/160 > pahala 10x lipat
Siapa yang datang dengan kebaikan, maka baginya sepuluh permisalannya, dan siapa yang datang dengan kejahatan, maka tiada dibalas kecuali yang seumpamanya (seimbang dengan kejahatan yang dilakukan), dan mereka tidak di zalimi. link:2/110, 7/8.

QS Al-Baqarah 2/261 > pahala 700x lipat
Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan harta mereka pada garis hukum Allah, seperti biji yang tumbuh menjadi tujuh cabang, pada setiap cabang ada seratus biji. Allah memperganda bagi siapa yang DIA kehendaki, dan Allah Maha luas lagi Maha mengetahui. link:14/23, 24, 25, 26, 65/3.

QS At-Tiin 95/6  > pahala tanpa batas
Kecuali orang-orang beriman dan beramal sholeh, bagi mereka balasan yang tidak dibatasi (tidak terputus). link:3/139, 40/51, 8/4.

QS Az-Zumar 39/53
Katakanlah: "Wahai hamba-hamba-KU yang melampaui batas (boros) atas dirinya, janganlah kecewa (putus asa) akan rahmat Allah. Sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosa semuanya. Bahwa DIA Maha Pengampun lagi Penyayang”. link: 39/54, 55, 56, 57, 58, 59

QS Al-Ahzab 33/35
Sesungguhnya Muslimin dan Muslimat, dan Mukminin dan Mukminat dan Koonitin dan Koonitat (orang tekun) dan Shodiqin dan Shodiqot (orang benar) dan soobirin dan Soobirot (orang sabar/tabah) dan Khoosi’in dan Khoosi’at (orang khusu’) dan Mutashodiqin dan Mutashodiqot (orang bersedekah) dan Shoo’imin dan shoo’imat (orang berpuasa) dan Hafidhina furujahum dan Hafidhot (orang yang menjaga kehormatannya) dan orang-orang dzikir pada Allah yang banyak (laki-laki dan perempuan), Allah menjanjikan (menyediakan) untuk mereka ampunan dan balasan yang besar.
link: 10-syarat masuk surga

Jumat, 11 Juli 2014

Umat Islam Terpecah Menjadi 73 Golongan

Tanya:
Dalam sebuah hadisnya, Nabi Muhammad SAW pernah memprediksi bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan. Saat hadis tersebut muncul, adakah latar belakang sejarah yang mengiringinya? Misalnya, sebelum beliau meninggal, Nabi sudah melihat bibit-bibit perpecahan di kaum muslim. Perpecahan apa yang dimaksud Nabi dalam hal ini? Apakah perihal ideologi atau sudah menyangkut akidah? Mohon pencerahannya, Ustaz.
Rasyid
Jawab:
Assalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,

Hadis yang Anda tanyakan itu memang populer di hampir semua lapis umat. Bahkan tiap kalangan umat telah menghafal betul hadis ini, malah sebagiannya telah menjadikan hadis ini sebagai 'senjata andalan' untuk menguatkan hujjah bahwa kelompoknya adalah yang selamat, sedangkan kelompok yang lain dianggap termasuk yang tidak akan selamat.

Hadis nabi yang menceritakan bahwa umat beliau akan terpecah menjadi 73 golongan lumayan banyak versinya. Namun semuanya seakan seragam tentang terjadinya perpecahan dalam tubuh umat Islam.

Di antara versi-versi hadis itu adalah:

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, Nasrani terpecah menjadi 71 atau 72 golongan. Dan umatku terpecah menjadi 73 golongan. (HR Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah, Ibu Hibban dan Al-Hakim)

Selain hadis ini, juga ada hadis lainnya yang senada, misalnya yang berikut ini.

Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 millah (agama), sementara umatku berpecah menjadi 73 millah (agama). Semuanya di dalam neraka, kecuali satu millah." Sahabat bertanya, "Millah apa itu?" Beliau menjawab, "Yang aku berada di atasnya dan juga para shahabatku." (HR At-Tirimizi, Abu Daud, Ibnu Majah, Al-Baihaqi dan Al-Hakim)

Kedudukan hadits dari segi sanad
Sebenarnya kami tidak berada dalam kapasitas sebagai muhaddits yang tahu seluk beluk tiap hadis. Apa yang kami sampaikan hanyalah kutipan dari para muhaddits yang telah melakukan penelitian panjang terhadap kedudukan hadis ini. Maka apa yang kami sampaikan bukan semata pandangan kami, melainkan pandangan orang lain.

Hadis pertama
Hadits pertama oleh Al-Imam At-Tirmizi disebut sebagai hadis hasan sahih. Penyebutan hasan sahih adalah khas beliau seorang, muhaddits lain tidak ada yang menggunakannya. Umumnya muhaddits hanya menggunakan istilah sahih saja atau hasan saja.

Para ulama hadis berikutnya kemudian menjelaskan bahwa apabila Al-Imam At-Tirmizi menyebut istilah hasan sahih, maka ada dua kemungkinan. Pertama, hadis itu punya 2 sanad. Sanad pertama hasan dan sanad kedua sahih. Kedua, hadis itu punya 1 sanad saja, oleh sebagian ulama dikatakan hasan dan oleh ulama lain disebut sahih. (Lihat kitab Taisir Musthalah Hadits oleh Mahmud Thahhan halaman 47).

Al-Hafidz Ibnu Hajar termasuk orang yang menghasankan hadis ini. Dan Al-Imam Ibu Taimiyah bahkan mengatakannya sahih, karena banyaknya jalur periwayatannya. Namun sebagian muhadditsin lainnya nampak kurang sepakat dengan At-Tirmizi dalam mensahihkan hadis ini. Titik masalahnya ada pada salah satu perawi yang bernama Muhammad bin Amru bin Alqamah bin Waqqash Al-Laitsi. Tarjamah (rekam jejam) perawi ini di dalam kitab rijalul hadis seperti Tahzibul Kamal oleh Al-Mazi dan Tahzibut Tahzib oleh Ibnu Hajardisebutkan sebagai rajulun mutakallam alaihi min qibali hifdzhihi, orang yang masih diperdebatkan dalam hafalannya.

Memang benar bahwa Al-Hakim mensahihkan hadis ini atas syarat dari Imam Muslim. Karena Imam Muslim menjadikannya hujjah. Namun pensahihan Al-Hakim dikritisi dengan argumentasi bahwa Imam Muslim mensahihkan Muhammad bin Amru dengan kesertaaan perawi lainnya. Bukan kalau dia sendirian. Oleh karena itu Az-Zahabi menolak periwayatan lewat Muhammad bin Amru kalau dia sendirian meriwayatkan hadits itu.

Ibnu Hazm mengomentasi hadis tentang perpecahan umat Islam menjadi 73 golongan sebagai hadis yang tidak sahih dari segi sanad-nya.

Hadis kedua
Hadits kedua, menurut para muhadditsin dikatakan sebagai berikut:

• Al-Imam At-Tirmizi mengatakannya sebagai hadis hasan.
• Al-Hakim mengatakan bahwa hadis kedua dapat dijadikan hujjah. Maksudnya dapat dijadikan dasar argumentasi secara ilmiah.
• Al-Imam Zainuddin Al-Iraqi (w. 809 H) dan Al-Imam Jalaluddin Assuyuthi mengatakan bahwa hadis kedua ini termasuk hadis mutawatir, yang pada setiap jenjangnya terdapat minimal 10 orang perawi.
• Al-Ajluni menuliskan hadis kedua ini dalam kitabnya, Kasyful Khafa' wa Muilul Ilbas. Kitab ini merupakan kitab yang berisi hadis yang populer di tengah masyarakat.

Kalau kita perhatikan, antara hadis pertama dan kedua, ada sedikit perbedaan, yaitu pada hadis pertama tidak terdapatkan tambahan, "Semuanya di neraka kecuali satu golongan, aku dan sahabatku."

Kalimat terakhir ini oleh sebagian ulama juga dijadikan polemik. Sebab yang agak sensitif memang bagian yang ini. Sedangkan adanya perpecahan di kalangan umat, barangkali dianggap sesuatu yang tidak bisa dipungkiri. Tapi kalau sampai dikatakan bahwa semuanya masuk neraka kecuali satu kelompok saja, maka di situlah titik pangkal fitnah.

Sebab tiap kelompok akan merasa dirinya saja yang paling benar. Sedangkan kelompok lain akan dianggapnya sesat, bid'ah, dan calon penghuni neraka. Berapa banyak jatuh korban di mana umat Islam saling menuduh saudaranya sebagai kelompok sesat, bahkan sampai saling mengkafirkan.

Para tokoh salafi akan merasa bahwa hanya salafi saja yang masuk surga, sementara yang tidak ikut salafi, boleh jadi dianggap akan masuk neraka. Tentu saja kelompok yang dituduh demikian akan balas menyudutkan salafi dengan tuduhan sebaliknya, yaitu sebagai kelompok sesat yang akan masuk neraka.

Dan semua kelompok akan memainkan hadis ini seperti kartu As untuk saling menelikung, saling jegal, saling menjatuhkan, dan saling mengumbar kejelekan saudaranya. Lalu mengklaim bahwa surga itu hanya diisi oleh pengikut setianya saja. Naudzu billahi min zalik.

Padahal tambahan hadis ini sebenarnya masih bermasalah dari segi kesahihannya. Misalnya komentar Ibnu Hazm yang dengan tegas mengatakan bahwa tambahan kalimat itu adalah hadis palsu. Bukan bagian dari sabda Rasulullah SAW.

Demikian juga dengan Imam Asy-Syaukani ketika mengutip pandangan Ibnu Katsir, bahwa tambahan kalimat, "Semuanya di neraka kecuali satu kelompok" telah di-dhaif-kan oleh banyak ulama muhadditsin.

Terakhir, Dr Yusuf Al-Qardawi ketika mengomentari masalah perpecahan 73 golongan ini mengatakan bahwa seandainya tambahan kalimat ini memang sahih, tidak ada ketetapan bahwa perpecahan itu harus terus menerus terjadi selama-lamanya, seolah sebagai kutukan buat umat Islam. Beliau berpendapat bahwa mungkin saja untuk satu kurun tertentu umat Islam pernah berpecah menjadi 73 golongan dan semuanya sesat, kecuali satu golongan. Namun hadis itu tidak bisa ditafsirkan bahwa keadaan itu akan terus menerus terjadi selamanya.

Tidak tertutup kemungkinan pernah ada golongan-golongan atau sempalan yang sesat dan masuk neraka. Sebagaimana tidak tertutup kemungkinan bahwa golongan itu sudah selesai riwayatnya sekarang ini. Sehingga pintu untuk saling mengkafirkan sesama umat Islam seharusya sudah kita tutup rapat. Bukan waktunya lagi kita saling mencari titik-titik lemah sesama umat Islam, lalu dengan bekal titik lemah itu, kita saling menghujat dan memvonis saudara kita sebagai penghuni neraka.

Kalau pun ada benar dari umat Islam yang sesat karena menyempal dan masuk neraka, maka hadis itu pun juga tidak memastikan bahwa yang masuk neraka itu akan kekal selamanya di dalam neraka. Sebab hadis itu tetap menyebut mereka sebagai 'umatku'. Artinya, Rasulullah SAW tetap menganggap mereka bagian dari umatnya dan agamanya tetap Islam. Tidak divonis oleh hadis itu sebagai orang kafir yang kekal di dalam neraka.

Semoga Allah SWT melunakkan hati saudara-saudara kita dan bisa menerima kekurangan sesama saudaranya. Amien.

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Tanya Ustaz merupakan rubrik khusus di Semarak Ramadan. Tanyakan dan/atau konsultasikan hal-hal menyangkut Islam pada halaman Tanya Ustaz untuk dijawab oleh Ahmad Sarwat.

Ahmad Sarwat adalah pendiri Rumah Fiqih Indonesia yang juga dikenal sebagai penyusun buku "Seri Fiqih Kehidupan", "Seri Tanya Jawab Syariah", dan "Ensiklopedia Fiqih Indonesia". Saat ini Ahmad Sarwat juga masih menulis di website Rumah Fiqih Indonesia dan website pribadinya, www.ustsarwat.com.