Tiga Golongan Manusia Pada Hari Kiamat 1.Golongan Orang yang Beriman Paling dahulu adalah orang-orang yang didekatkan dengan Allah 2.Golongan Kanan alangkah mulianya golongan ini 3.Golongan Kiri alangkah sengsaranya golongan ini! QS:Al-Waqi'ah

Minggu, 12 Maret 2017

Muslimin Menelantarkan Jenazah Muslimat

Liputan6.com, Jakarta - Jenazah nenek 78 tahun ditelantarkan oleh masyarakat sekitar. Pasalnya, sang nenek yang sudah tak bisa berjalan sejak lama itu memilih Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat saat Pilkada DKI putaran pertama.



Menurut keterangan Neneng, pasca nenek bernama Hindun bin Raisman itu mencoblos Ahok-Djarot, keluarganya menjadi pergunjingan. Neneng adalah putri bungsu Hindun.

"Kami ini semua janda, empat bersaudara perempuan semua, masing-masing suami kami meninggal dunia, kini ditambah omongan orang yang kayak gitu, kami bener-bener dizalimi, apalagi ngurus pemakaman orang tua kami aja susah," ujar Neneng, pada Liputan6.com di kediamannya, Jalan Karet Raya II, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat (10/3/2017).

Neneng menceritakan, kronologi jenazah ibundanya ditolak disalatkan di musala oleh ustaz Ahmad Syafii. Neneng mengatakan, saat itu dia dan keluarganya ingin agar jenazah Hindun disalatkan di mushola. Namun, ditolak oleh Ustaz Ahmad Syafii lantaran tidak ada orang di musala.

Selain itu, tak ada orang yang menggotong jenazah Hindun ke musala. Sehingga Ustaz Ahmad Syafii mensalatkan Hindun di rumahnya.

"Alasannya, nggak ada orang yang mau nyalatin (di musala), padahal kami ini anak dan cucunya ramai menyalatkan, tapi memang orang lain (warga lain) cuma empat orang (yang datang ke rumah)," terang Neneng.

Neneng menceritakan, saat Pilkada DKI empat petugas KPPS mendatangi rumah mereka untuk meminta Hindun ikut mencoblos. Tapi karena kondisi fisik Hindun yang ringkih, dia menolak datang ke TPS. Tapi, petugas tetap ingin mengambil suara Hindun.

"Pas pemilihan itu, Mak (Hindun) disuruh nyoblos, ya namanya orang tua sudah nggak tau apa-apa, nyoblos asal aja. Kebetulan yang dicoblos nomor dua dan dilihat sama empat orang petugas itu," terang Neneng.

Sejak itulah, kata Neneng, keluarganya dituduh sebagai pendukung penista agama. Pencoblosan yang disaksikan empat petugas KPPS itu berbuntut panjang. Neneng merasa ada yang salah dengan cara pemungutan suara terhadap ibunya. Namun, saat itu Neneng tak ambil pusing.

"Ya pas nyoblos itu kan terbuka, dilihat orang banyak, saya ragu juga, bukannya nggak boleh dilihat siapapun? Kan rahasia itu pilihan. Tapi, karena Mak sakit, ya sudahlah, kami nggak ambil pusing, pokoknya nyoblos," terang Neneng.

Pencoblosan itu, ternyata jadi malapetaka. Keluarga mereka dituduh mendukung Ahok yang kini berstatus terdakwa dalam kasus penistaan agama.

"Nyatanya itu yang bikin masalah, keluarga kami dituduh keluarga kafirlah, mereka anggap kami semua milih Ahok, padahal itukan Mak nggak tau apa-apa, asal nyoblos aja," keluh Neneng.

Saat mau disalatkan, kata Neneng, jenazah Hindun dipergunjingkan oleh warga. Keputusan Ahmad Syafii untuk mensalatkan ibunya di rumah dianggap sebagai keputusan atas spanduk yang dipasang di musala.

"Di sana banyak yang bilang, jangan disalatkan, itu pemilih Ahok," kata Neneng.

Ketika itu, kata Neneng, Ahmad Syafii berkata jenazah Hindun tak bisa disalatkan di Musala Al-Mu'minun.

"Ustadz Pii (Ahmad Syafii) bilang, 'enggak usah mending di rumah aja percuma, enggak ada orang' gitu katanya, padahal anak cucu Mak banyak yang mau menyalatkan," terang Neneng.

Neneng merasa aneh dengan keputusan itu. Apalagi, jarak antara rumah dan mushala hanya berjarak beberapa meter. Namun, memiliki jalur yang cukup sempit.

Ia heran, Ustaz Syafii yang menolak itu malah datang ke rumahnya dan memimpin salat jenazah. Di rumah Neneng, hanya empat orang tetangganya yang ikut melaksanakan salat jenazah.

"Kan aneh gitu, dia yang nolak, dia juga yang menyalatkan," kata Neneng.




Untuk mengkonfirmasi, Liputan6.com kemudian menemui Ustaz Ahmad Syafii. Dia menegaskan telah mensalati jenazah Hindun.

"Perkaranya itu bukan karena milih Ahok, bukan nggak disalati, saya yang ngimami, saya yang bantu talqin (melepas arwah orang yang kritis dengan kalimat tauhid) kan 24 jam sebelum Nenek (Hindun) meninggal," terang Ahmad Syafii  di rumahnya yang persis berada di depan sebuah spanduk penolakan menyalati jenazah pendukung penista agama.

Syafii menerangkan, pilihan untuk mensalati jenazah Hindun di rumahnya karena tak ada kaum lelaki yang akan mengangkat jenazahnya ke musala. Terlebih, kata dia saat mau disalati, penggali kubur sudah menelepon dirinya agar jenazah cepat diantarkan untuk dikuburkan.

"Jadi, pas saat itu, saat jenazahnya sampai di rumah, tukang gali makam sudah nelpon saya, suruh cepet sebab sudah sore banget, dia harus pulang. Saya bilan di telepon itu, tunggu dulu, ini belum disalatin, saya bahkan kasih tip agar tukang galinya mau menunggu," kata dia.

Meski begitu, Syafii mengakui telah menolak permintaan keluarga agar jenazah Hindun disalatkan di musala. Sebab, kata dia, saat itu dirinya sudah diburu waktu. Apalagi, mobil yang akan membawa jenazah Hindun ke musala terjebak macet. Sehingga tak ada warga yang membawa jenazah Hindun ke musala.

"Jadi, rombongan itu ketahan sama macet, ya memang nggak ada orang, mau salatin di musala gimana? Orang nggak ada, terus tukang gali kubur sudah minta cepet terus," terang Syafii.

Sementara, seluruh keluarga Hindun  adalah perempuan sehingga tak ada yang bisa mensalatkan. Syafii pun mengambil keputusan, agar jenazah disalatkan di rumah saja dengan jamaah seadanya.

"Pas sampai sana aja hujan deras," kata Syafii.

Ia menyayangkan kesalahpahaman yang terjadi karena spanduk menggantung dan gunjingan warga yang membuat semakin keruh suasana.

"Ini banyak yang nggak paham, penyelenggaraan jenazah itu hukumnya Fardu Kifayah. Kalau sudah ada yang nyelenggarain jenazah satu orang aja, berarti semua sudah turut serta. Saya ini wakilnya masyarakat sini buat nyelenggarain jenazah. Sekali pun saya cuma sendirian yang menyalatkan, itu berarti mewakili 40 keluarga di sini, begitu ajaran Islam," terang Syafii.

Hal ini juga dibenarkan tiga orang warga sekitar yang meminta namanya tak disebut. Salat untuk jenazah Hindun memang tak dilakukan di mushala dan sekumpulan warga yang ingin menyelenggarakan jenazahnya memang tertahan karena macet.

Tiga orang warga tersebut ditemui Liputan6.com di kediamannya masing-masing, keterangan mereka tak ada bedanya dengan keterangan Neneng dan juga Syafii.

"Mungkin keluarga Neneng lagi sedih, dan mudah tersinggung, penyelenggaraannya memang gitu, bukan karena dia pendukung Ahok. Tapi, ya begitu warga sini banyak yang gosipin dan nyangkutin sama Pilkada, kasihan Nek Hindun dan Neneng," kata tetangga Neneng yang meminta tak dituliskan namanya.

Tetangganya menjelaskan, keluarga Hindun adalah keluarga yang tabah. Bahkan, anak Neneng sudah yatim sejak ia baru saja kelas satu SD. Neneng yang anak bungsu itu memiliki tiga orang kakak yang semuanya perempuan, dan mereka janda karena suaminya meninggal dunia.

Hindun, adalah warga yang sepuh dan paling lama tinggal di daerah tersebut. Warga sekitar menaruh simpati pada keluarga yang tak henti-hentinya mendapatkan cobaan. Namun, banyak juga di antara mereka yang menggunjingkan dan memojokkan Neneng dan keluarganya karena pilihan keluarga mereka.

Terlebih, salah satu keluarga Neneng memang bekerja sebagai tim kampanye pasangan calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut 2, Ahok-Djarot.

"Keluarga saya memang ada yang kerja dengan Ahok, tapi itu sudah sejak di Belitung, sudah lama, namanya Natalnaen dan Susanto, keluarga saya memang kerja dengan Ahok, ya wajar kalau dia bawa topi, baju, kalender dan atribut lain," kata Neneng yang mewakili keluarganya untuk bicara.

Tak hanya di situ, anak Neneng yang masih play group diolok-olok sebagai anak keluarga kafir. "Sampai dikirim chat dan foto yang ngolok-olok di grup WhatsApp," kata Neneng.

Nenengpun memperlihatkan grup WhatsApp dari orang tua murid dari playgrup tempat anak Neneng disekolahkan.

"Siapa yang nggak sakit? Ibu saya baru aja meninggal, anak saya diolok-olok, keluarga saya dituduh keluarga kafir, cuma karena ibu saya milih secara terbuka dan dilihat orang banyak dianya nyoblos nomor 2, semuanya dikaitkan ke situ. Zalim, Mas, kami dizalimi," ucap Neneng.

Hingga kini, kata Neneng pihak keluarganya masih kesusahan dalam mengurus surat-surat kematian dan surat-surat pemakaman untuk ibunya. Neneng menyebut, Ketua RT tak membantu dirinya. Pasalnya, hingga siang tadi, ia masih belum bisa mengurus surat pemakaman ibunya.

Namun, Ketua RT 009 RW 02, Abdurrahman membantah mempersulit surat-surat penyelenggaraan jenazah, penguburan dan surat kematian Hindun.

"Surat-surat kematian itu awalnya dikerjain buru-buru, karena saya dapat kabarnya sudah sore. Saya ikut kok ke kuburannya, tapi memang nggak ikut menyalatkan karena baju saya kotor banget abis ngebor sumur," kata Abdurrahman.

Abdurrahman menyebut, surat kematian Hindun dan segala surat lainnya menang diberikan saat itu juga. Namun, kelanjutannya, Abdurrahman mengaku tak mengetahui. Pasalnya, dia harus bergegas pulang setelah dari kuburan.

"Jadi, saya serahin ke warga yang lainnya, saya lagi butuh duit juga. Kalau nggak kerja gini (ngebor sumur) saya dapat duit dari mana? Kemarin suratnya sudah saya berikan ke yang lain. Bukannya lepas tanggung jawab, tapi sudah diurus sama yang lain. Mungkin itu anggapannya nggak diurus RT," ucap Abdurrahman.

Sabtu, 04 Maret 2017

SUASANA LINTAS AGAMA DI INDONESIA

Raja Salam - Raja Arab Saudi

Raja Salam bersama Joko Widodo

Tokoh Lintas Agama Inonesaia 2017
Tokoh LIntas Agama Indonesia 2017, ketika kunjungan Raja Salman Jakarta Indonesia, 1-3 Maret 2017
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud bertemu dengan para tokoh lintas agama Indonesia. Pertemuan itu mendapat apresiasi dari para tokoh lintas agama.

Ada 28 tokoh lintas agama yang hadir dalam pertemuan yang berlangsung di Lantai 11 Hotel Raffles, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (3/3/2017). Pertemuan itu diprakarsai oleh pemerintah Indonesia.

Kepala Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden Bey Machmudin yang hadir dalam pertemuan itu mengatakan Raja Salman mengapresiasi kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Raja Salman juga berharap setiap warga negara bisa memegang teguh nilai-nilai toleransi di masyarakat.

"Stabilitas Indonesia merupakan buah dari semangat toleransi dan hidup berdampingan di antara semua lapisan penduduk Indonesia. Kita hendaknya dapat bekerja sama untuk terus menjalin komunikasi dengan dialog di antara umat beragama agar dapat memperkuat nilai-nilai toleransi," ujar Raja Salman seperti yang disampaikan Bey dalam keterangan tertulisnya, Jumat (3/3/2017).

Selain itu, kata Bey, Raja Salman juga mendorong seluruh pihak untuk aktif menjaga perdamaian. Oleh karenanya, segala bentuk radikalisme dan ekstremisme yang makin menggejala disebutnya sangat penting untuk ditanggulangi.

"Semua agama berusaha untuk menjaga hak-hak manusia dan kebahagiaan mereka. Karenanya penting untuk memerangi radikalisme dan ekstremisme yang ada," kata Raja Salman.

Sementara itu, lanjut Bey, dalam pertemuan itu Presiden Jokowi memperkenalkan secara singkat para tokoh lintas agama yang hadir kepada Raja Salman. Jokowi mengatakan para tokoh yang hadir tersebut merupakan representasi dari kemajemukan yang ada di Indonesia.

"Yang Mulia Sri Baginda Raja Salman bin Abdul Aziz al-Saud, hadir dalam pertemuan kali ini wakil dari agama Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Kehadiran beliau-beliau semuanya merupakan representasi perwakilan dari kemajemukan yang ada di Indonesia," ujar Jokowi.

Jokowi juga mengatakan para tokoh lintas agama yang hadir tersebut merupakan teladan bagi para umatnya.

"Yang Mulia, para pemimpin agama ini merupakan teladan bagi umatnya dalam mengembangkan semangat toleransi dan sikap saling menghormati, yang sangat penting dalam hubungan antarumat beragama di Indonesia. Hal ini merupakan aset bangsa Indonesia, aset negara Indonesia, yang sangat berharga dalam berkontribusi bagi perdamaian, utamanya perdamaian dunia," kata Jokowi.

Pada kesempatan itu, masing-masing tokoh lintas agama menyampaikan testimoninya kepada Raja Salman. Para tokoh ini mengapresiasi sikap Raja Salman dan Presiden Jokowi yang mau melakukan pertemuan lintas agama ini.

Ignatius Suharyo, seorang tokoh agama Katolik, dalam dialog tersebut mengutarakan pandangannya terkait dengan kehadiran Raja Salman dan Presiden Jokowo. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Indonesia yang telah memprakarsai dialog antarumat beragama ini.

"Bagi kami, umat Katolik, perjumpaan ini merupakan suatu peristiwa yang sangat simbolik. Merupakan bagian bagi sejarah bangsa Indonesia Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peristiwa ini mengingatkan saya kepada beberapa tonggak sejarah bangsa Indonesia ini, mulai dari kebangkitan nasional tahun 1908, disusul dengan Sumpah Pemuda tahun 1928, dan proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945 dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945," katanya.

Suhadi Sanjaya yang mewakili umat Buddha menyampaikan harapannya akan perdamaian dunia. Dirinya berharap kepada Raja Salman dengan segala kebijakannya untuk turut aktif menciptakan perdamaian dan kebahagiaan bagi seluruh umat manusia.

"Tentu harapan kami kepada Sri Baginda dengan segala kebijakan dan kewibawaannya bisa menciptakan perdamaian di dunia dan kebahagiaan bagi seluruh umat manusia. Semoga Sri Baginda selalu dibekali dengan kesehatan dan panjang umur," kata Suhadi.

Sementara itu, Uung Sendana yang mewakili agama Konghucu mengaku bersyukur dengan adanya kesempatan untuk bertemu dengan Raja Salman dan Presiden Joko Widodo beserta para pemuka agama lainnya. Dia berharap pertemuan serupa dapat kembali dilakukan di masa mendatang.

"Inisiatif pertemuan semacam ini dari Yang Mulia, dengan dukungan dari pemerintah Indonesia, sungguh menyentuh hati kami semua. Semoga ini bisa menyebar dan menginspirasi semua orang. Sehingga bukan saja hubungan Arab Saudi-Indonesia menjadi semakin erat, tetapi juga hubungan antaragama menjadi lebih erat pula," kata Uung.

Adapun perwakilan dari agama Hindu yaitu Wisnu Bata Tenaya, mempersembahkan sesanti dari Kitab Sutasoma yang ditulis oleh Empu Tantular kepada Raja Salman. Ia menegaskan, bahwa isi dari Kitab tersebut tertulis kalimat 'Bhinneka Tunggal Ika' yang mempertegas kerukunan dan harmonisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak hanya Indonesia melainkan dunia.

"Yang mulia Raja Salman dan Presiden Joko Widodo, izinkan kami dari umat Hindu Indonesia turut menyampaikan salam baik kami. Sebenarnya dasar satu kesatuan yang ingin dicapai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, keharmonisan seperti ini yang ingin kita terus terapkan untuk berbangsa yang lebih baik, menuju dunia damai, sejahtera dan bahagia. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa memberikan petunjuk dan jalan yang terbaik untuk membangun kerja sama antar kedua negara," ucap Wisnu.

Hanriette yang mewakili umat Protestan juga menyampaikan pandangannya. Ia berharap agar kerja sama yang terjalin antara Arab Saudi dan Indonesia dapat menjadi semakin erat dan bersama-sama dengan negara lainnya menciptakan peradaban yang saling menghargai sesama manusia.

"Peran Yang Mulia sangat penting dalam bersama-sama dengan pemimpin negara-negara menciptakan peradaban dunia yang ditandai dengan persaudaraan, sikap saling menghargai, sekalipun kita bangsa-bangsa di dunia ini berasal dari pelbagai latar belakang sosial, suku, bahasa, dan budaya. Semoga kerja sama di antara Arab Saudi dan Indonesia semakin erat," ujarnya.

Adapun Azyumardi Azra, yang mewakili umat Islam, menyambut baik ajakan Raja Salman untuk memerangi radikalisme dan ekstremisme. Hal tersebut tentunya dapat tercapai dengan dukungan stabilitas ekonomi dan politik Indonesia.

"Indonesia beruntung bisa memiliki stabilitas ekonomi dan politik sehingga dengan demikian bisa memajukan kehidupan bangsa dan negara. Karena itulah Indonesia bersama dengan Arab Saudi menyambut baik himbauan dari Raja Salman agar kerja sama di antara kedua negara ini dalam menghadapi radikalisme dan terorisme senantiasa diperkuat," ucapnya.

Turut hadir dalam pertemuan itu Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Sebelum bertemu dengan para pemuka lintas agama, Jokowi terlebih dahulu mengundang Raja Salman dalam jamuan teh yang dihelat di ruangan yang berbeda.

(jor/dhn)

Senin, 07 November 2016

Penjelasan Buya Syafii Maarif Megejutkan

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Gegabah dan Tidak Teliti Nyatakan Ahok Hina Al-Quran

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, JAKARTA – Hal yang mengejutkan disampaikan oleh Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Syafii Maarif atau biasa disapa Buya Syafii terkait kasus dugaan penistaan agama pada Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)

Menurutnya, Ahok tidak melakukan penghinaan terhadap Al Quran saat kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu.Buya Syafii memiliki alasan sendiri.

Ia kemudian memaparkan penilaiannya.

Selain itu Buya juga mengkritik Majelis Ulama Indonesia (MUI).
"Sekiranya saya telah membaca secara utuh pernyataan Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu yang menghebohkan itu," kata Buya Syafi'i dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (7/11/2016).
Ia mengaku tidak sempat mengikuti pendapat dan pernyataan sikap MUI yang telah dibacakan dengan penuh emosi saat diundang program salah satu‎ televisi nasional, namun belakangan baru membaca isi pendapat dan pernyataan sikap MUI melalui internet.

"Dalam fatwa itu jelas dituduhkan bahwa Ahok telah menghina Al Quran dan menghina ulama sehingga harus diproses secara hukum," ujarnya.

Namun, saat itu, ungkap Buya Syafii, akal sehatnya mengatakan bahwa Ahok bukan orang jahat yang kemudian ditanggapi beragam oleh berbagai kalangan.

Setelah itu, Buya Syafii mendapat hujatan cukup banyak, begitu juga yang membela.

"Semua berdasarkan Fatwa MUI yang tidak teliti itu, semestinya MUI sebagai lembaga menjaga martabatnya melalui fatwa-fatwa yang benar-benar dipertimbangkan secara jernih, cerdas, dan bertanggung jawab," kata Buya.

Dia meminta masyarakat perhatikan dengan seksama kutipan Ahok saat kunjungan kerja ke Pulau Pramuka, 27 September 2016 seperti yang tersebar di internet.

Jika diperhatikan seksama tidak ada ucapan Ahok yang menghina.

"Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin pakai Surat Al-Maidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya. Perhatikan, apa terdapat penghinaan Al-Quran? Hanya otak sakit saja yang kesimpulan begitu," katanya.

Apalagi, kata Buya Syafii, jika sampai menista langit, jauh dari itu. Perkara dikesankan menghina ulama menurutnya tak perlu dibahas.

Menurutnya, pokok masalah disini adalah pernyataan Ahok di depan publik disana agar jangan percaya sama orang karena dibohongin pakai surat surat Al-Maidah 51.

Ahok sama sekali tidak mengatakan surat Al-Maidah 51 itu bohong.

"Yang dikritik Ahok adalah mereka yang menggunakan ayat itu untuk membohongi masyarakat agar tidak memilih dirinya," katanya.

Buya Syafii mengatakan pusat perhatian tulisan ini adalah tidak benar Ahok menghina Al Quran sesuai kutipan lengkap keterangannya di Pulau Pramuka diatas.

Dirinya menyesalkan, pendapat gegabah MUI ternyata telah berbuntut panjang. Bahkan, demo 4 November bentuk kongkretnya.

"Apakah kita mau mengorbankan kepentingan bangsa dan negara itu akibat fatwa yang tidak cermat itu? Atau apakah seorang Ahok begitu ditakuti di negeri ini, sehingga harus dilawan dengan demo besar-besaran? Jangan jadi manusia dan bangsa kerdil," katanya. (*)


Pernytaan Buya Syafii Lainnya:
Kata Kunci Buya Syafii Maarif untuk Meraih Kedamaian
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, JAKARTA - Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Syafi'i Maarif mengakui, menciptakan kedamaian dan kerukunan di muka bumi bukanlah perkara mudah. Namun, ada satu kunci penting untuk mencapai kerukunan dalam perbedaan, yakni ketulusan.
"Saya juga tidak tahu bisa dekat, termasuk dengan Biksu sahabat saya. Padahal yang seagama saja kadang tidak dekat," ujar Syafi'i Maarif dalam bagian Pidato Kebangsaan dan Pentas Seni Budaya Nusantara di Taman Beringin Sukarno di Universitas Sanata Dharma (USD), Jumat (21/8/2015) malam.
Syafii menuturkan, menciptakan kerukunan dan toleransi selalu saja dibarengi riak-riak kecil intoleransi. Sebab, manusia memiliki sifat egois. "Memang tidaklah mudah, tapi cita-cita terciptanya kedamaian itu harus terus diperjuangkan," ucap dia.
"Saya pernah ditanya Pendeta di Manado, bagaimana menciptakan kerukunan? Saya jawab kuncinya dengan ketulusan," ujar Syafi'i lagi.
Dia menjelaskan, ketulusan itu mengandung sikap mau saling mengerti dalam perbedaan. Mau menghormati perbedaan dan mau bersaudara dalam perbedaan. "Asal kita mau tulus, maka akan tercipta kedamaian dan toleransi," tegas dia.

Minggu, 06 November 2016

Buni Yani Penggugah Video Ahok

Buni Yani Cengar-Cengir Saat Dicecar Pertanyaan Oleh Aiman

Kasihan Buni Yani Dipecat dari Pekerjaannya


Nusron Wahid Kuliahi